MEMBACA
Banyak yang mengatakan buku adalah jendela dunia. Betul sekali, buku adalah jendela dunia. Dengan membuka buku berarti Anda membuka jendela dunia. Anda bisa melihat keluar, sesuatu yang baru atau pemandangan yang berbeda dengan apa yang ada di rumah kita. Yang dimaksud rumah adalah pikiran kita saat ini. Sebagian orang mengatakan bahwa dengan membaca sebuah buku berarti kita membuka cakrawala.
Membaca buku adalah kita menyelami dunia lain, yaitu sebuah dunia yang ada di dalam pikiran orang lain. Sementara setiap orang memiliki dunia masing-masing. Dengan membaca buku kita akan menyelami berbagai dunia orang lain yang akan memberikan kita kebijaksanaan yang lebih mendalam dalam menghadapi hidup.
Saat kita membaca buku yang membahas bisnis, berarti kita memahami suatu sudut pandang penulis buku tersebut mengenai bisnis. Kita akan menambah wawasan dan kebijaksanaan mengenai bisnis. Begitu juga, saat juta membaca buku yang membahas kehidupan lainnya, kita akan memiliki wawasan dan kebijaksanaan yang lebih baik dan mendalam dalam kehidupan.
Tidak ada, satu buku pun yang pernah ditulis di dunia yang tidak membawa manfaat. Setiap buku akan membawa manfaat kepada kita jika kita mampu menangkap makna dan hikmah. Jika kita masih kesulitan menangkap makna dan hikmah dari suatu buku, berarti kita harus meningkatkan keterbukaan pikiran kita. Hikmah dan makna sebuah buku tidak akan masuk ke dalam pikiran yang tertutup.
Satu-satunya buku yang tidak membawa manfaat adalah buku yang tidak pernah kita baca. Sekali kita membaca buku, maka makna dan hikmah buku tersebut bisa masuk ke dalam pikiran kita jika pikiran kita terbuka. Anda adalah salah seorang yang memiliki pikiran terbuka, saya yakin. Sebab Anda mampu membaca artikel ini sampai pada paragrap ini. Ini berarti, Anda akan mampu menerima makna dan hikmah dari buku manapun yang Anda baca. Selamat untuk Anda.
KERINDUAN
DUA DAN SATU KERINDUAN
mari,
kugenggam jemari,
engkau yang cahaya purnama,
mari menari,
dalam hari
engkau yang tertawa bahagia,
mari, ke mari
di sisiku bidadari
engkau yang ku cinta
“Ramli Abdul Rahim”
MALAM
Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang
“Chairil Anwar”
MENCINTAIMU
Sia-sia!
Tiada guna!
Tanpa rasa
Tanpa……………………..?
EQ (Emosi Que)
Kebanyakan orang dan temen-temen mengatakan bahwa aku tampak seperti orang yang penyabar,pendiem dan enggak bisa marah. Banyak yang sering kaget bahkan nggak percaya kalau tahu aku marah. Sedikit banyak hal itu membuatku terbebani karena aku merasa sama sekali nggak seperti itu.
Entah kenapa marah merupakan suatu hal yang mudah bagiku. Hal sesepele mungkin pun bisa membuatku marah, walaupun kemarahanku lebih sering hanya kupendam dalam hingga tak seorang pun tahu akan hal itu. Ketika aku memendam marah biasanya kulampiaskan dengan tidur,maen PS (eh kayaknya gak bleh nyebutin merek ya klo gitu maen game ja ya,Heee,,,heeee) atau ngajak temen-temen maen fulsal atau sepak bola sepuasnya dan semaunya. Jeleknya, kalau pas aku nggak dirumah (diasrama atau dikost, red) hal seperti ini akan sangat berdampak pada kondisi keuanganku karena tidak ada yang serba gratis selain dirumah.
Kemarahan juga bisa membuatku bersedih, karena aku sering menyesal mengapa harus marah (tapi emeng bener kata pepata menyesal datangnya gak perna diawal). Setelah marah terkadang aku bisa langsung kembali normal (kemarahanku hilang total). Sehingga aku kembali bisa berhubungan dengan orang yang kumarahi seperti sedia kala. Tetapi tidak jarang kemarahanku tidak bisa sembuh dalam waktu singkat sesingkat perjalanan bus way. Akibatnya aku tidak lagi berhubungan dengan orang-orang yang kumarahi secara wajar.
Disisi lain aku juga orang yang mudah banget bahagia. Apalagi kalau apa yang kumau, kuinginkan terpenuhi. Hal lain yang mudah membuatku bahagia adalah kalau aku bisa ketemu teman-teman dekatku pas masih di SD, SMP,SMU atau lainnya. Pasti seru banget. Saat-saat bahagia justru terkadang merupakan saat yang membahayakan bagiku. Karena aku sering “lupa keadaan”, walaupun masih dalam “batas-batas yang wajar”.
Kesedihan merupakan salah satu wujud dari emosiku. Meskipun begitu aku adalah orang yang jarang bersedih (kata temen-temenku sih gitu).
Mungkin itu sedikit ceritaku tentang EQ. Mudah-mudahan ada yang bisa membantuku untuk memanage EQ, dengan harapan aku bisa menjadi orang yang lebih, lebih, dan lebih baik lagi dimasa depan. Amiin
AKU
Aku
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini bintang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.
“Chairil Anwar”
KE MANA KATA-KATA ?
Oleh :
Arif Senjaya
Hanya kita berdua
tercipta begitu saja
dalam percakapan
penuh prasangka
seperti rapat-rapat gelap –
tak mungkin bersembunyi
atau disembunyikan jarak.
Sepi menjelma beranda
dan kita bertanya
ke mana kata-kata?
Pintu-pintu terbuka
menunggu kabar dari masa lalu.
Akhirnya kata-katalah
yang merdeka
dan kita menunggu kehadirannya
setiap waktu.
April 8, 2008
April 8, 2008
April 8, 2008